Translate

Sabtu, 25 Agustus 2012

GUNUNG TAMBORA


  SEJARAH LETUSAN GUNUNG TAMBORA TAHUN 1815

 DAMPAK LOKAL DAN GLOBAL


                                             Helius Syamsuddin


Historiografi Indonesia masih jarang kalau dapat dikatakan belum mengenal  perspektif baru yang mengangkat peristiwa-peristiwa bencana alam seperti gempa bumi, banjir, letusan gunung berapi dsb. dengan segala aspek dampaknya bagi kehidupan manusia dan lingkungannya ke dalam suatu kajian yang serius. Tema-tema sejarah lingkungan (eco-history, atau history of the environment) (Peter Burke, ed. 1991:1), atau sejarah iklim  (history of climate) (http://www.netlexikon.akademie.de/Year-Without-A-Summer.html, 02-01-2005) seperti yang sudah dikenal dalam historiografi-historiografi Barat rupanya belum lazim bagi kita. Peristiwa terdahsyat terbaru gempa di dasar Samudra Hindia disusul dengan terjangan gelombang tsunami yang membuat Aceh, Sumatra Utara dan beberapa negara Asia dan Afrika lain yang berbatasan pantai dengan Samudra Hindia porak-poranda  pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu akan menjadi topik kajian pada masa-masa akan datang. Bukan saja peristiwanya (event) sendiri yang akan disebut-sebut tetapi analisis dampak-dampak lingkungan, sosial-budaya, psikologis, demografis, ekonomis, politik dsb. dalam jangka pendek, menengah, dan panjang akan menjadi objek kajian interdisiplin/multidisiplin menarik bagi para peneliti ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan/atau ilmu-ilmu alam. Dengan menggunakan bahasa superlatif, “Malapetaka Ahad” karena tsunami yang lalu merupakan bencana terbesar tercatat dalam sejarah umat manusia. Puluhan bahkan ratusan ribu jiwa manusia menjadi korbannya.  Belum lagi sarana dan prasarananya luluh-lantak dan rusak binasa. Dahulu di bangku SMA dipelajari dalam sejarah Indonesia, di Jawa, misalnya, malapetaka yang ditimbulkan oleh letusan dahsyat gunung Merapi di Jawa Tengah telah memaksa pusat pemerintahan Mataram (kuna, Hindu) pindah dari Jawa tengah ke Jawa timur pada abad ke-10. Peristiwa yang dianggap pralaya (=kehancuran dunia pada akhir masa Kaliyuga) ini sesuai dengan kepercayaan kosmogonis Jawa bahwa kerajaan kuna harus diganti dan dibangun kerajaan baru, termasuk dinastinya, seperti  yang terjadi dengan Pu Sindok yang menjadi pendiri dinasti Isana. (Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1984: 157; R. Soekmono, 1984: 49). Dalam tulisan ini saya mencoba mengungkap salah satu peristiwa bencana alam yang hampir serupa yaitu letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa tahun 1815 dengan dampaknya bagi sejarah lokal dan global, serta inspirasi-inspirasi yang muncul menyertainya.


Laporan resmi Th. S. Raffles

Sebelum gunung berapi Tambora meletus di pulau Sumbawa terdapat enam unit politik berupa kerajaan-kerajaan Islam: Sumbawa, Dompu, Bima dan di lereng-lereng barat, utara, dan tenggara gunung Tambora terdapat [Pa]Pekat, Tambora dan Sanggar. Gunung Tambora mengkangkangi ketiga kerajaan terakhir ini. Letak gunung di punuk pulau karena jazirah pulau Sumbawa seperti onta yang sedang mendekam.

Tahun 1815 cukup penting dalam sejarah Indonesia karena masih berada pada masa transisi (interregnum) pemerintahan Inggris di bawah Letnan Gubernur Th. S. Raffles ke pemerintahan Hindia-Belanda. Laporan tentang gunung Tambora yang meletus justru terjadi ketika Inggris dalam proses mundur dari Indonesia.

Sumber pertama sejaman dengan peristiwa letusan gunung Tambora berasal dari laporan resmi Letnan Gubernur Th. S. Raffles yang menulis di Batavia September 1815, Narrative of the Effects of the Eruption from the Tomboro Mountain, In the Island of Sumbawa, on the 11th and 12th of April 1815 dalam VBG,  VIII Deel, 1816, hlm. 1-25. Artikel ini sebagai rangkuman semua laporan para residennya dari berbagai distrik yang masuk segera setelah peristiwa terjadi. Para pejabat itu dianggap sebagai saksi-mata dari berbagai tempat dan kepulauan yang terbentang antara kepulauan Maluku sampai Sumatra, termasuk Jawa, Bali, Sulawesi, dan dari pulau Sumbawa sendiri. (Belakangan diketahui juga termasuk Kalimantan yang ketika itu masih disebut Borneo, http://en.wikipedia.org/wiki/Tambora, 29-04-2004)

 

 Menurut laporan yang dibacakan Raffles, letusan pertama tanggal 5 April 1815 kemudian disusul oleh letusan-letusan pada hari-hari berikutnya terdengar di berbagai penjuru angin. Semula diduga di Jawa, Sumtra, Sulawesi dan kepulauan Maluku  sebagai letusan-letusan meriam. Oleh sebab itu dari Yogyakarta  dikirim suatu detasemen pasukan karena diduga post terdekat diserang, atau di pantai Jawa dua kapal dikirim mencari kapal kalau-kalau ada yang mengalami kecelakaan. Di Sumatra (Bengkulu) diduga Fort Marlborough diserang. Di Makassar diduga ada serangan bajak laut dari arah laut selatan [Laut Flores] sehingga pemerintah setempat mengirim satu detasemen pasukan dengan kapal perang untuk mengejarnya. Di Ternate resident mengirim kapal untuk memeriksa kapal karam di lepas pantai. Lalu dugaan beralih ke gunung berapi Merapi, Kelud atau Bromo ketika pada hari-hari berikutnya letusan-letusan terus berlanjut  yang disertai curah hujan abu lebat dan membuat siang gelap gulita pada beberapa tempat di Jawa.  Pada malam tanggal 10 April ledakan lebih keras dan sering sehingga terdengar sampai di Ceribon dan daerah sebelah timurnya. Ledakan-ledakannya berkali-kali mengguncang bumi dan laut. Hari berubah gelap dan hujan debu semakin kerap terutama dialami oleh Solo dan Rembang.  Hujan abu serupa turun di Bali, Sulawesi, Maluku, apalagi di pulau Sumbawa sendiri. Ledakan lebih dahsyat lagi terjadi sepanjang tanggal 11 April disusul dengan gelap gulita sepanjang malam dan keesokan harinya. Di Solo pada jam 4 sore benda-benda tidak lagi dapat dilihat pada jarak 300 yard, demikian pula Gersik dan distrik-distrik sebelah timurnya. Di Banyuwangi abu setebal delapan inci. Di Bali semula orang menyangka gunung berapi “Carang Assam” [sic! Gunung Agung] yang meletus dan penduduk menghubung-hubungkannya dengan peristiwa perebutan tahta dua bersaudara raja Buleleng yang berakhir dengan kematian salah seorang di antaranya atas perintah saudaranya. Singkatnya, “all reports concur in stating that so violent and extensive an Eruption has not happened within the memory of the oldest inhabitants, nor within tradition.” (Raffles,  1816: 1-9) .

Di antara sekian banyak letusan, ada dua letusan yang dianggap paling dahsyat yaitu tanggal 10 April 1815: …“on the night of the 10th the explosions became truly tremendous, frequently shaking the Earth and Sea violently” dan 11 April 1815: …On the night of the 11th the explosions … have been most terrific…” (Raffles, 1816:8; 16-17).

Bagi lokal pulau Sumbawa sendiri laporan diperoleh dari komandan kapal penjelajah Benares  yang berangkat dari Makassar tanggal 13 April dan tiba di Sumbawa tanggal 18 April dan surat dari letnan Owen Philips yang ditulis di Bima tanggal 23 April. Philips datang ke Sumbawa atas perintah Letnan Gubernur Raffles untuk membawa bantuan beras bagi penduduk pulau. Komandan kapal melaporkan ketika mendekati pantai Sumbawa, mereka temukan sejumlah besar batu apung berwarna arang mengambang di laut dengan ketebalan beberapa inci, begitu pula batang-batang kayu yang terbakar dan tercabik seperti kena sambar petir. Ketika berlayar memasuki teluk Bima, kapal menghadapi kesulitan tehalang oleh sejumlah besar arang batu apung dan pahon-pohon kayu yang mengambang. Ketika kapal berlabuh, mereka dapati kapal penjelajah Ternate yang sudah beberapa bulan di Bima, begitu pula sejumlah perahu besar dan kecil ikut terdampar jauh dari pantai disapu angin dan gelombang yang muncul akibat gunung meletus. Rumah residen dan penduduk kota Bima atap-atapnya rubuh tidak bisa lagi dihuni karena dibebani oleh abu gunung berapi. Ketika pelayaran kemudian dilanjutkan ke arah gunung Tambora, dari jarak enam mil dari pantai tidak kelihatan puncak gunung karena tertutup oleh awan-awan asap dan abu. Pada lereng-lereng gunung tampak masih menyala dan mengalir lahar-lahar merah dan di beberapa tempat sudah sampai ke laut. (Raffles, 1816:15-19).

Surat Owen Philip menyebutkan bahwa ketika menjelajah ke arah barat pulau, terutama sebagian Bima dan hampir seluruh Dompu, ia temukan “…extreme misey to which the inhabitants have been reduced is shocking to behold—there were still on the road side  the remains of several corpses…the Villages almost entirely deserted—and the houses fallen down—the surviving inhabitants having dispersed in search of food.” (Raffles, 1816:21-22). Selanjutnya ketika ia menggambarkan kerajaan-kerajaan yang tertimpa oleh bencana gunung itu, Philips menulis:

In Dompu, the sole subsistence of the inhabitants for some time past has been the heads of different species of palm, and the stalks of the papaya and plantain.

Since the Eruption, a violent Diarrhea has prevailed in Bima, Dompu, and Sangar [Sanggar], which has carried off a great number of people; it is supposed by the Natives to be caused by drinking water, which has been impregnated with the ashes, and horses have also died in great numbers from a similar complaint. (Raffles, 1816:21-22).


Ketika berada di Dompu, Philips bertemu dengan raja Sanggar yang datang menyelamatkan diri. Dari tiga kerajaan yang berada di kaki gunung Tambora, ia satu-satunya raja yang berhasil selamat dari bencana itu. Dari raja inilah Philips memperoleh berita saksi mata pertama tentang bencana yang menimpa seluruh pulau yang menjadi dasar surat dalam laporannya. Karena terjadi kelaparan salah seorang putri raja  Sanggar meninggal. Sebagai sumbangan Philips menyerahkan tiga koyang beras.  (Raffles, 1816: 22).


Akibat letusan dan dampaknya bagi pulau Sumbawa

Para pakar vulkanologi, geologi, cuaca dan/atau musim dari Barat sampai pada awal abad ke-21 ini masih terus menulis tentang dampak letusan gunung Tambora yang fenomenal dan garagantuan. Sejarah mencatat bahwa letusan gunung Tambora tahun 1815 adalah yang terdahsyat di Indonesia kalau bukan di seluruh dunia. “…the 1815 Tambora eruption, the largest in historical time.” (Stewart, 1820; Zollinger, 1855; Crawfurd, 1856; Stothers, 1984; Sigurdsson and Carey, 1987). “The paroxysmal eruption of Mt. Tambora on the island of Sumbawa in April 1815…having triggered a world wide historic event…” (Anthony Tully,  http://www.indodigest.com. 29-04-2004). “A phenomenon occurred  in April 1815 with the cataclysmic eruption of Tambora Volcano in Indonesia, the most powerful eruption in recorded history.” (http://vulcan.wr.usgs.gov/Volcanoes/Indonesia/description_tambora_1815_eruption.html., 29-04-2004). “On April 10, 1815, Mount Tambora, a volcano 13,000 feet high, erupted and sent 12 cubic miles of rock into the sky ­ taking 4,000 feet off the top of the mountain, leaving a crater three miles wide. It was the largest explosion in the recorded history of mankind.” ((KihmWinship, http://home.earthlink.net/~ggghostie/coldsummer.html., 30-03-2004)

Mengenai luas jangkauan dan kerusakan ditimbulkannya ditulis demikian:

The concussions produced by its explosions were felt at a distance of a thousand miles (1600km) all round; and their sound is said to have been heard even at so great a distance as seventeen hundred miles (2700km). In Java the day was darkened by clouds of ashes, thrown from the mountain to that great distance (three hundred miles (500km)), and the houses, streets, and fields, were covered to the depth of several inches with the ashes that fell from the air. So great was the quantity of ashes ejected, that the roofs of houses forty miles (65km) distant from the volcano were broken in by their weight. The effects of the eruption extended even to the western coasts of Sumatra, where masses of pumice were seen floating on the surface of the sea, several feet in thickness and many miles in extent.


            Bagi pulau Sumbawa sendiri ini merupakan malapetaka terbesar. Dua unit politik  yang terletak di lereng-lerengnya sirna tertimbun lahar bersama raja dan seluruh rakyatnya yaitu kerajaan-kerajaan [Pa]Pekat dan Tambora. Jejak-jejak dua kerajaan ini diketahui keberadaannya hanya dari arsip-arsip VOC berdasarkan kontrak-kontrak yang mereka buat dengan Kompeni selama abad ke-17-18. Empat kerajaan lagi yang tertinggal yaitu Bima, Dompu, Sanggar dan Sumbawa di pulau tidak luput dari bencana. Penduduknya berkurang, baik langsung karena letusan, kelaparan maupun karena eksodus ke lain-lain pulau. (H. Zollinger, 1850; C. Lekkerkerker, 1933).

            H. Zollinger yang berkunjung ke pulau Sumbawa tahun 1847 (1850: 151) mencatat korban jiwa akibat letusan Tambora 1815:

Papekat

  2000 jiwa

Tambora

  6000 jiwa

Sanggar

  1100 jiwa

Dompo

  1000 jiwa

Total

10.100 jiwa


Kemudian pada halaman yang sama ia mencatat secara keseluruhan:

[Kerajaan]

Segera setelah meletus

Menyusul karena kelaparan dan penyakit

Mengungsi

[meninggalkan negeri]

Papekat

  2.000 jiwa

---

---

Tambora

  6.000 jiwa

---

---

Sanggar

  1.100 jiwa (½)

    825 ( 3/8)

   275 (1/8)

Dompo

  1.000 jiwa (1/10)

  4.000 (4/10)

 3.000 (3/10)

Sumbawa

---

18.000 (1/3)

18.000 (1/3)

Bima

---

15.000 (1/4)

15.000 (1/4)

Total

10.000

37.825

36.275


Kesimpulan:

Meninggal

47.925 jiwa

Meninggalkan negeri (mengungsi)

36.200 jiwa

Total [korban] penduduk

84.200 jiwa


Hampir sembilan dasawarsa kemudian C. Lekkerkerker mencatat ulang:

JUMLAH KORBAN

LETUSAN TAMBORA 1815


Jumlah jiwa di onderafdeling

Sumbawa

Bima

Jumlah seluruh

Sebelum letusan 1815


Sesudah meletus 1815


Sensus penduduk (Volkstelling) November 1920


Sensus penduduk  (Volkstelling) Oktober 1930

54.000



18.000



94.000





115.000

80.000



36.000



152.000





200.000

134.000



54.000



246.000





316.000


Sumber: C. Lekkerkerker, “Enkele Nieuwe Gegevens Over Soembawa”. TNAG. 1933, hlm. 73-81.


KORBAN-KORBAN LETUSAN TAMBORA 1815


Kerajaan-

Kerajaan;

Pulau-pulau

Tewas pada

saat meletus


Meninggal karena lapar

& sakit


Mengungsi atau dijual ke Jawa, Sulawesi Selatan,

Ambon, Banda



Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

Papekat

(Lereng Selatan &

Barat Daya)


Tambora

(Lereng

Utara & Timur Laut)


Sanggar

(sebelah Tenggara Tambora).


Dompu

(sebelah Tenggara Sanggar).


Sumbawa


Bima


Seluruh Pulau Sumbawa


Pulau Lombok


2000





6000





1100





1000





-


-


10.100




-



-

100





100





50





10





-


-





-



-

-





-





825





4000





18.000


15.000


37.825




10.000



-


-





-





37½





40





33


25


28




5



-


-





-





275





3000





18.000


15.000


36.275




-



-


-





-





12½





30





33


25


27




-



-


Sumber: C. Lekkerkerker, “Enkele Nieuwe Gegevens Over Soembawa”. TNAG. 1933, hlm. 73-81.


Memang memerlukan waktu lama untuk bangkit kembali setelah malapetaka itu. Kerajaan-kerajaan Dompu, Bima, Sanggar dan Sumbawa harus menggeliat untuk bangkit kembali dengan sisa-sisa rakyat, aparat pemerintahan yang masih hidup, sumber-sumber alam yang rusak binasa, jangan dikatakan lagi sumber finasial yang sudah ke titik nadir. (Raffles, 1816:16-17; http://en.wikipedia.org/wiki/Tambora., 29-04-2004)

Dua dampak penting jangka panjang setelah letusan itu ialah perubahan teritorial dan sosiologis-demografis bagi pulau Sumbawa. Setelah Tambora meletus, terbentuk “daerah-daerah tidak bertuan” (idle lands) di wilayah-wilayah bekas kerajaan [Pa]Pekat dan kerajaan Tambora. Perbatasan-perbatasan antara Dompu dan Bima menjadi tidak jelas. Khusus untuk Dompu, setelah melalui suatu proses yang cukup lama, akhirnya Belanda karena merasa diri sebagai “pemilik” Hindia-Belanda, melalui kontrak dengan Sultan Dompu, Muhamad Sirajuddin tanggal 31 Desember 1905 mengakui dan menetapkan:

Het landschap Dompo is samengesteld uit vroeger gelijknamige rijk bestaande uit de dessa’s Dompo, Kempo, Kawangko, Wonggo, Kilo, Hoesoe [Hu’u], Daha, Adu en Ranggo. Waaraan na de groote uitbarsting van den vulkan Tambora het toen totaal ontvolkte landschap Pekat toegevoegd. Bovendien behooren daaraan de navolgende eilanden: Kawangko, Poeloe-Poeloe [Pulau Pudu], Poeloe [Pulau] Sora en [Pulau] Satonda en Poeloe [Pulau] Rate. (Overeenkomsten met de Zelfbesturen in de Buitengewesten., 1929: 476)


Jadi daerah kerajaan Dompu dan Bima sebelum dan sesudah meletus gunung Tambora sangat berbeda. Sebelum Tambora meletus, wilayah kerajaan Dompu relatif “kecil” karena masih terdapat lima kerajaan lain seperti: Sumbawa, Bima, Papekat, Tambora, Sanggar. Setelah Tambora meletus, dalam perjalanan waktu kerajaan Dompu mendapat tambahan wilayah yaitu bekas seluruh kerajaan Papekat (juga ada bagian-bagian tertentu dari kerajaan Tambora dan mungkin Sanggar). Wilayah itulah yang menjadi wilayah Dompu sampai sekarang. Begitu pula Bima, pada tahun 1920an karena kerajaan Sanggar tidak ada lagi yang bisa melanjutkan pemerintahannya lalu dimasukkan ke dalam wilayah kerajaan Bima. Oleh sebab itu, ada yang menganggap letusan itu sebagai “Rakhmat Tuhan Tersembunyi” (blessing in disguise) bagi kedua kerajaan itu. Jika tidak ada letusan dan/atau malapetaka Tambora tahun 1815, mungkin saja di pulau Sumbawa wilayah Dompu dan Bima masih “kecil” karena masih tetap ada empat kerajaan lain. Letusan gunung Tambora tahun 1815 merupakan garis pemisah yang drastis dan tajam bagi sejarah lokal di pulau Sumbawa, garis pemisah antara sebelum dan sesudah letusan.

Singkatnya terjadi perubahan peta politik dan teritorial di pulau Sumbawa sebagai berikut:

Wilayah kerajaan-kerajaan Pulau Sumbawa sebelum Tambora meletus

Wilayah kerajaan-kerajaan Pulau Sumbawa setelah Tambora meletus

Dompu

Dompu (+ Papekat + sebagian Tambora)

Bima

Bima (+ Sanggar)

Sumbawa

Sumbawa

Sanggar

---

(Pa)pekat

---

Tambora

---


Dampak lain dari letusan Tambora, ialah dari segi demorafis-sosiologis. Karena malapetaka letusan Tambora, Dompu sangat kekurangan penduduk. Dalam perjalanan waktu puluhan bahkan seratusan tahun kemudian Dompu terpaksa menerima “migrasi” penduduk dari kerajaan sekitarnya, khususnya dari Bima. Terjadi interkasi yang relatif intensif antara penduduk Dompu dan penduduk Bima. Orang-orang Bima datang menetap di Dompu (Zollinger, 1850: 143). Terbentuklah komunitas-komunitas Bima di Dompu seperti yang lambat-laun kemudian akhirnya menjadi orang-orang Dompu. “Sebab itu atas persetudjuan sultan Dompu dan Bima didatangkan rakjat kolonisasi (pembojong) dari Bima dengan sjarat rakjat itu mendjadi rakjat keradjaan Dompu. Karena itu bertambah djumlah kampung dan djiwa di Dompu: olonduru, olobaka, Montabaka, Rasana’ebaka, elobaka, untju dll.”[1]

Ketika digambarkan tentang malapetaka yang menimpa Bima dan Dompu, Tully yang mengutip laporan Raffles menulis demikian: The blanket of ashes was so heavy that they collapsed the roofs of the Resident's and many other dwellings in Bima and rendered them uninhabitable. The Dompu Palace at Dora [Doro] Bata was also buried with ash.” (Tully. http://www.indodigest.com. 29-04-2004). Keterangan terakhir ini memberikan inferensi mengapa istana Dompu yang dahulu semula berada di karena tertimbun abu dan tidak bisa lagi didiami lalu ditinggalkan. Agaknya   dahulu merupakan sebuah situs  sejarah penting—mungkin pra-Islam--yaitu istana tua (asi ntoi) yang letaknya di selatan Sori Na’e [Sungai Besar] yang kemudian dipindahkan ke sebelah utara sungai. Di sini didirikan istana baru (asi ). (Letaknya di situs Mesjid Raya Dompu sekarang). Letusan Tamboralah yang  telah “memaksa” ini semua terjadi, perpindahan istana lama ke istana baru. Meskipun tidak seperti di Jawa pusat pemerintahan pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur  karena letusan Merapi, di Dompu pusat pemerintahan pindah dari selatan Sori Na’e ke sebelah utara Sori Na’e karena letusan Tambora (sic!).



Dampak Global

Menarik untuk disimak artikel yang telah ditulis oleh Dr. Keith C. Heidorn, seorang pakar cuaca Amerika, “Weather Events. Eighteen Hundred and Froze To Death. The Infamous "Year Without A Summer" berdasarkan berita surat-surat kabar setempat dan semasa (1816) di Amerika Serikat dan Kanada, seperti Advertiser dari Albany, Gazette dari Quebec, North Star dari Danville, Vermont,: New Hampshire Patriot, Halifax, Nova Scotia, dan Weekly Chronicele; catatan-catatan harian (diary) antara lain dari David Thomas, Travels through the Western Country in the Summer of 1816, dari sejumlah jaringan stasion-stasion meterologi yang mencatat kondisi harian tahun 1816 (ditulis tahun 2000 yang diperbaharui lagi tahun 2004).

Heidorn menulis dengan membandingkan, menyebut dampak dan menjadi penyebab bencana itu semua:  

dingin musim-musim panas antara tahun 1811 sampai 1817, tahun 1816 telah ditulis dalam annals  sejarah New England dengan julukan buruk sebagai "The Year There Was No Summer," "Poverty Year" dan "Eighteen Hundred and Froze to Death." Tahun itu dimulai dengan winter yang nyaman dan kering. Musim bunga datang terlambat dan melanjut kering. Akan tetapi perjalanan musim dari akhir musim bunga sampai awal musim gugur, disela oleh serangkaian gelombang-gelombang dingin yang merusak yang benar-benar menghancurkan tanaman-tanaman sehingga mengurangi persediaan bahan makanan. Di bagian wilayah tengah dan utara New England, musim panas hanya mempunyai dua periode tanpa embun es atau temperatur yang hampir beku. Salju yang menyebar luas turun pada bulan Juni. Akibatnya, jagung tidak sampai masak, dan jerami, buah-buahan, dan sayur-sayuran  sangat berkurang dalam kuatitas dan kualitasnya…. Fakta-fakta hidup meteorologi telah disampaikan. Periode Maret sampai September ditandai oleh serangkaian invasi-invasi yang kuat dan sering udara artik yang kering melintasi New England. Jika gerak massa udara artik melalui daerah ini biasa pada iklim-iklim lain, penampilan mereka dalam musim panas sedingin dan sesering tahun 1816 adalah benar-benar luar biasa. Pertanyaan timbul, mengapa? Berbagai teori telah dikemukakan. Yang paling mungkin disebabkan oleh dampak gunung berapi. Para pendukung [teori ini] mencatat ada sejumlah letusan-letusan besar mendahului 1816: SoufriĆ©re dan St. Vincent tahun 1812: Mayon dan Luzon di Filipina selama tahun 1814; Tambora di Indonesia selama tahun 1815. Teori vulkanik tentang pengaruh iklim menghubungkan aktivitas vulkanis dengan berkurangnya temperatur karena bertambahnya refleksi radiasi solar (matahari) dari debu vulkanis yang terlempar dan terperangkap jauh tinggi di atmosfer. Letusan Tambora diperkirakan yang terbesar dalam sejarah. Ledakannya diyakini telah mengangkat 150 sampai 180 kubik kilometer material ke dalam atmosfer. Sebagai perbandingan, letusan buruk Krakatau 1883 melepaskan hanya 20  kubik kilometer material ke udara, dan itu berdampak pada matahari terbenam selam beberapa tahun sesudahnya. (Heidorn, http://www.islandnet.com/~see/weather/history/1816.htm, 02-01-2005)


            Selanjutnya tulisannya ditutup dengan pengaruhnya ke belahan bumi lain,

….

Tahun 1816 juga luar biasa dinginnya di mana-mana. Laporan-laporan dari Eropa utara menunjukkan dampak yang sama atas tanaman dan manusia, pada saat benua itu itu baru saja muncul dari kekacauan Perang-perang Napoleon  (Napoleonic Wars). Cuaca luar biasa itu menyebabkan terjadi riot di Perancis yang mengguncangkan pemerintahan monarki konstitusional dari Louis XVIII dan Talleyrand. Sejumlah sejarawan percaya bahwa bahaya kelaparan yang mulai pada yahun 1816 menciptakan kondisi-kondisi yang kondusif bagi epidemi tifus yang telah membunuh jutaan manusia tahun 1817-1819. (Heidorn, http://www.islandnet.com/~see/weather/history/1816.htm, 02-01-2005)


Sebuah artikel lain yang ditulis oleh Kihm Winship,


Skaneateles' [kota 18 mil di barat daya New York] cold summer of 1816 had begun a year earlier, in Indonesia, on the remote island of Sumbawa. On April 10, 1815, Mount Tambora, a volcano 13,000 feet high, erupted and sent 12 cubic miles of rock into the sky ­ taking 4,000 feet off the top of the mountain, leaving a crater three miles wide... The plume of volcanic dust rose 25 miles into the atmosphere, and slowly ringed the globe, shrouding and chilling as it went. In China and Tibet, cold weather killed trees, rice, even water buffalo. In Great Britain and Europe, cold and eight weeks of nonstop rain led to crop failure, famine and an epidemic of typhus. And in the northeastern U.S., where the seasons "turned backwards," the residents of Skaneateles ate roots and berries, and prayed for warmer weather. (KihmWinship, http://home.earthlink.net/~ggghostie/coldsummer.html., 30-03-2004)

                       


Tambora dalam cerita rakyat dan sastra

Letusan gunung Tambora ternyata telah memberikan inspirasi yang melahirkan cerita-cerita rakyat (folklore) setempat (Zolinger, 1850: 149; Chambert-Loir, ed. 1982:186-188; Helius Sjamsuddin, 1985, XII, 5: 52-54) dan cerita-cerita horor seperti “Vampire” dan “Frankenstein” dalam sastra dunia. (Anthony Tully http://www.indodigest.com,30-04-2004). Dalam versi Roorda van Eysinga, cerita rakyat menyebut tentang seorang Arab, Said Idrus, yang mampir berniaga di kerajaan Tambora. Ketika akan sholat di mesjid, ia melihat seekor anjing masuk sehingga ia menyuruh penjaga mengusirnya karena yang memasukkan anjing ke mesjid itu kafir. Rupanya anjing itu kepunyaan raja. Karena ada yang melaporkan kepada raja dengan sebutan kafir, sang raja murka. Ia menyuruh  tangkap dan sembelih anjing itu bersama-sama dengan seekor kambing. Said Idrus diundang dalam suatu perhelatan dan kepada Said Idrus disajikan makanan daging anjing, sedangkan tamu-tamu lain daging kambing. Ketika raja akhirnya memberitahukannya bahwa daging yang disantapnya itu daging anjing, dan menurut Said Idrus itu haram, keduanya berbantah. Raja semakin murka dan memerintahkan hamba-hambanya membunuh Said Idrus di puncak Tambora. Konon karena itu, menurut kepercayaan rakyat, Allah SWT menjadi murka dan sebagai hukuman kepada raja bersama rakyatnya meletuslah gunungTambora.

Versi lain yang saya peroleh, nama orang Arab itu bukan Said Idrus melainkan Sekh Muhamad Saleh. Sekh itu datang ke kerajaan Tambora untuk menyiarkan agama Islam (memang agak anakronis karena Tambora sudah lama memeluk Islam bersama kerajaan-kerajaan lainnya di pulau Sumbawa). Selanjutnya cerita hampir sama,  sang sekh disuguhi daging anjing oleh sang raja. Karena sekh ikut marah, raja memerintahkan membunuh dan membakar mayatnya. Abunya dibuang ke sebuah teluk  yang sekarang memperoleh nama Teluk Saleh. (Helius Sjamsuddin, 1985, XII, 5: 52-54).

Ternyata dalam sastra dunia cuaca yang disebabkan oleh letusan Tambora itu memberikan ilham. Anthony Tully mencatat:

The eruption of Tambora even had a less well-known, but not insignificant impact on literature. In the summer of 1816, the nineteen-year old writer Mary Godwin (soon to be Shelley) was staying at Lake Geneva at that time having previously eloped with future-husband Percy Shelley, and they were now with no less a luminary than Lord Byron and his physician John Polidori. In the past, Voltaire and Rousseau had come to these shores, and the region was widely regarded (and would be later, with Carl Jung) as a sacred place where enlightenment would come to those who seek it.
To the perplexed group at that time, the previously beautiful weather turned tumultous and stormy in June. They did not learn of it till later, but they were experiencing the effects of mighty Mt. Tambora's historic eruption on the other side of the world. On June 16th, 1816 the group was prevented from returning to town from their lakeside villa by a powerful storm. Such weather in June was unheard of, and the entourage took to reading German ghost stories, and inspired, Byron challenged each member to come up with one of their own. In response, John Polidori commenced the Vampyre, the first modern vampire story.
The others wrote some forgettable breifs. However, five days later, with the bizarre lightning streaked summer nights continuing, Mary was inspired by a discussion of whether a corpse could be animated by science. That night she had a "waking nightmare" and the next morning, she began to write her story inspired from it. The work was completed in the following year, and became known to the world as ….Frankenstein. Realizing the volcanic-induced haywire weather of that June was unique, she changed her season for her tale and wrote "it was on a dreary night in November…." Hence, behind each depiction of the birth of Frakenstein's monster there lies just a little bit of the real pyrotechnic awe and terror of the eruption of Tambora!
(http://www.indodigest.com,30-04-2004).


Penutup


Bacaan:


Buku, Jurnal.


Burke, Peter, ed. New Perspective on Historical Writing.  Oxford: Polity Press. 1991.


Chambert-Loir, Henri. Syair Kerajaan Bima. Jakarta-Bandung: EFEO. 1982, hlm. 186-188.

Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum. 1650-1675 (Uitgegeven toegelicht door Mr.J.E. Heeres, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1931); 1676-1691 (Uitgegeven door Mr.J.E. Heeres, toegelicht door Dr. F.W. Stapel, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1934; 1691-1725 (door Dr. F.W. Stapel, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1935); 1726-1752 (, Dr. F.W. Stapel, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1938, Vijfde Deel); 1753-1799 (Dr. F.W. Stapel, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1955, Zesde Deel).


Djoened Poesponegoro, Marwati & Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia, II, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.


Lekkerkerker, C. “Enkele nieuwe gegevens over Soembawa,” Tijdschrift van Koninklijk Nederlandsch Aardrijkskundig Genootschap (TNAG). 1933.


Mededeelingen van de Afdeeling Bestuurs-zaken der Buitengewesten van het Departement van Binnenlandsch Bestuur. Serie A No.3. Overeenkomsten met de Zelfbesturen in de Buitengewesten. Handelingen der Staten-Generaal (1913-1914, Bijlage). Weltevreden: Landsdrukkerij. 1929.


R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, 2, Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1984


Raffles, Th. S. Narrative of the Effects of the Eruption from the Tomboro Mountain, In the Island of Sumbawa, on the 11th and 12th of April 1815. Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap, der Kunsten en Wetsenshappen. (VBG). VIII Deel. 1816.


Sjamsuddin, Helius. “Tambora.” Terang Bulan. Th.XII. No.5 Maret, 1985, hlm. 52-54.


Zollinger, H. “Verslag van eene reis naar Bima en Soembawa, en naar eenige plaatsen op Celebes, saleijer en Floris, gedurende de maanden Mei tot December 1847,” Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap. 1850.


 

Internet


Newhall and Daniel Dzurisin, 1988, “DESCRIPTION:  Tambora Volcano, Indonesia”. USGS. Historical Unrest at Large Calderas of the World: U. S. Geological Survey Bulletin 1855.


Heidorn, Keith C. “Weather Events. Eighteen Hundred and Froze To Death.” http://www.islandnet.com/~see/weather/history/1816.htm, 02-01-2005


“Mount Tambora”. Wikipedia. The Free Encyclopedia. http://en.wikipedia.org/wiki/Tambora. 29-04-2004.


Tully,  Anthony. ”Tambora, Indonesian Volcano (Tambora Volcano Part I Tambora: The Year Without A Summer.” The Indonesian Digest. http://www.indodigest.com. 29-04-2004.

Winship, Kihm. “The Cold Summer of 1816”. http://home.earthlink.net/~ggghostie/coldsummer.html. 30-03-2004

video



Bandung, 10 Januari 2004

Helius Sjamsuddin


Tidak ada komentar: